LAPORAN PEMBEKALAN MATERI PEMBEKALAN PLPG TAHUN 2017 PEDAGOGIK
LAPORAN PEMBEKALAN MATERI PEMBEKALAN PLPG TAHUN 2017 SENI BUDAYA PEDAGOGIK

By Masri 18 Sep 2017, 19:25:07 WIB PLPG
LAPORAN PEMBEKALAN MATERI PEMBEKALAN PLPG TAHUN 2017 PEDAGOGIK

  1. LAPORAN PEMBEKALAN MATERI PERIODE SATU

Sumber Belajar Pedagogik

  1. Ringkasan Materi
  1. Pengembangan pendidikan karakter dan potensi peserta didik,

Dalam Pengembangan Karakter peserta didik di Sekolah, Guru memiliki posisi yang strategis sebagai pelaku utama. Guru merupakan sosok yang bisa digugu dan ditiru atau menjadi idola bagi peserta didik. Guru bisa menjadi sumber inpirasi dan motivasi peserta didiknya. Sikap dan prilaku seorang guru sangat membekas dalam diri siswa, sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi cermin siswa.

Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Tugas-tugas manusiawi itu merupakan transpormasi, identifikasi, dan pengertian tentang diri sendiri, yang harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan yang organis, harmonis, dan dinamis.

 

Ada beberapa strategi yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi guru untuk memainkan peranannya secara optimal dalam hal pengembangan pendidikan karakter peserta didik di sekolah, sebagai berikut :

    1. Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran. Guru tidak seharusnya menempatkan diri sebagai aktor yang dilihat dan didengar oleh peserta didik, tetapi guru seyogyanya berperan sebagai sutradara yang mengarahkan, membimbing, memfasilitasi dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat melakukan dan menemukan sendiri hasil belajarnya.
    2. Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran. Guru dituntut untuk perduli, mau dan mampu mengaitkan konsep-konsep pendidikan karakter pada materi-materi pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampunya. Dalam hubungannya dengan ini, setiap guru dituntut untuk terus menambah wawasan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, yang dapat diintergrasikan dalam proses pembelajaran.
    3. Mengoptimalkan kegiatan pembiasaan diri yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia. Para guru (pembina program) melalui program pembiasaan diri lebih mengedepankan atau menekankan kepada kegiatan-kegiatan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia yang kontekstual, kegiatan yang menjurus pada pengembangan kemampuan afektif dan psikomotorik.
    4. Penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya karakter peserta didik. Lingkungan terbukti sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi manusia (peserta didik), baik lingkungan fisik maupun lingkungan spiritual. Untuk itu sekolah dan guru perlu untuk menyiapkan fasilitas-fasilitas dan melaksanakan berbagai jenis kegiatan yang mendukung kegiatan pengembangan pendidikan karakter peserta didik.
    5. Menjalin kerjasama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam pengembangan pendidikan karakter. Bentuk kerjasama yang bisa dilakukan adalah menempatkan orang tua peserta didik dan masyarakat sebagai fasilitator dan nara sumber dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah.
    6. Menjadi figur teladan bagi peserta didik. Penerimaan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang diberikan oleh seorang guru, sedikit tidak akan bergantng kepada penerimaan pribadi peserta didik tersevut terhadap pribadi seorang guru.
 
  1. Teori Belajar

Aliran teori belajar dibagi dua, yaitu :

  1. Teori belajar tingkah laku (behavioristic)
  • Teori belajar dari Thorndike
        • Edward Lee Thorndike berpendapat bahwa belajar akan lebih berhasil bila respon siswa terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasaan (stimulus-respon/koneksionisme).
  • Teori belajar Pavlov
        • Pavlov berpendapat bahwa agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan (konsep pembiasaan/conditioning)
  • Teori belajar Skinner
        • Burhus Frederich Skinner berpendapat bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses belajar
  • Teori belajar Bandura
        • Bandura berpendapat bahwa siswa belajar melalui meniru (diberi contoh).

 

  1. Teori belajar kognitif-konstruktivisme
  • Teori belajar Vygotsky
        • Lev Semenich Vygotsky menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Dia mengemukakan dua konsep penting dalam teorinya, yaitu :
  • Zone of Proximal Development (ZPD), merupakan   jarak   antara   tingkat perkembangan  aktual   (yang   didefinisikan  sebagai  kemampuan   pemecahan masalah secara mandiri) dan tingkat perkembangan potensial (yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau  melalui   kerja sama dengan   teman  sejawat  yang lebih  mampu). Yang dimaksud dengan  orang dewasa adalah guru atau orangtua.
  • Scaffolding, merupakan  pemberian sejumlah   bantuan kepada   siswa   selama tahap- tahap  awal    pembelajaran,    kemudian    mengurangi    bantuan    dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah iadapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa  petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah      ke      dalam      langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.

 

  • Teori belajar Van Hiele
        • Penelitian yang dilakukan  vanHiele melahirkan   beberapa   kesimpulan mengenai       tahap-tahap   perkembangan kognitif anak  dalam memahami geometri. VanHiele menyatakan bahwa terdapat beberapa tahap pemahaman geometri yaitu:
          • TahapVisualisasi(Pengenalan)
          • TahapAnalisis (Deskriptif)
          • Tahap DeduksiFormal(Pengurutanatau Relasional)
          • TahapDeduksi

 

  • Teori belajar Ausubel
        • Ausubel memberipenekanan  pada  proses    belajar     yang  bermakna. Belajar   bermakna  merupakan  suatu   proses   dikaitkannya   informasi   baru padakonsep-konsep  yang  relevan   yang  terdapat  dalam   struktur   kognitif seseorang. Dalam  belajar      bermakna  informasi      baru  diasimilasikan    pada subsume-subsume yang  telah  ada.  Ausubel  membedakan antara  belajar menerima dengan     belajar menemukan. Pada belajar  menerima siswa hanya menerima, jadi tinggal menghapalkannya, sedangkan pada belajar menemukan konsep ditemukanoleh siswa, jadi   siswa    tidak    menerima pelajaran begitu saja.

 

  • Teori belajar Bruner
        • Menurut Bruner dalam belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses tersebut adalah
      • memperolehinformasi baru,
      • transformasi informasi, dan
      • menguji relevan informasi dan ketepatan pengetahuan. 

Bruner juga mengemukakanbahwa terdapat tiga sistem  keterampilanuntuk menyatakan    kemampuan-kemampuan    secara    sempurna.    Ketiga    sistem keterampilan itu adalah yang disebut   tiga cara penyajian, yaitu:

(1) enaktif

(2) ikonik

(3)  simbolik

 

 

  1. Model-model pembelajaran

Berikut ini penjelasan beberapa model pembelajaran

Discovery Learning

a. Stimulation (Stimulasi, Pemberian Rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

b. Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)

Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244), sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

 

c. Data Collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).

d. Data Processing (Pengolahan Data)

Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22)

e. Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244).

f.  Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244).

 

 

 

Problem Based Learning (PBL)

Tahapan-Tahapan Model PBL

a. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Guru berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.

 

b. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut.

 

c. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)

Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.

 

d. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)

Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.

 

e. Menguji Hasil (Assess the Outcome)

Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

 

  1. Evaluasi hasil belajar

Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidikan adalah proses pengumpulan informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis yang dilakukan untuk memantau proses,kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan evaluasi hasil belajar (Permendikbud No. 53 Tahun 2015 Pasal 1).

Dari pengertian di atas ada 3 aspek capaian kompetensi yang dapat dinilai (assessment) dari seorang peserta didik, yaitu :

1)  Aspek Sikap

Penilaian sikap dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan sikaps piritual dan sikapsosialsiswa. Sikap spiritual yang dimaksud meliputi keimanan  dan ketakwaan. Sementaraitu, sikapsosial mencakup kejujuran, kedisiplinan, ke-santunan, kepercayaan diri, kepedulian  (toleransi, kerjasama, dan gotong-royong), dan rasa tanggung-jawab.

 

2)  Aspek Pengetahuan

Penilaian pengetahuan dilakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan kecakapan berfikir siswa  dalam dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, maupun metakognitif. Kemampuan proses berfikir yang dimaksud,b erturut-turut dari yang rendah ke tinggi,   meliputi  mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Proses berfikir mengingat, memahami, dan menerapkan dikategorikan sebagai kecakapan berfikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills) sementara menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta dikelompokkan kecakapan berfikir tingkat tinggi (Higher OrderThinking Skills).

 

3)  Aspek Keterampilan

Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu diberbagai macam konteks sesuai dengan indicator pencapaian kompetensi. Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik, antaralain penilaian praktik, penilaian produk, penilaian proyek, dan penilaian portofolio. 

Teknik penilaian keterampilan yang digunakan dipilih sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4.

     Berdasarkan Permendikbud No. 81A tahun 2013 istilah penilaian (assesment) terdiri dari tiga kegiatan, yakni:

1)  Pengukuran,

adalah kegiatan membandingkan  hasil  pengamatan dengan suatu  kriteria  atau ukuran

2)  Penilaian,

adalah  proses  mengumpulkan       informasi/  bukti  melalui pengukuran, menafsirkan, mendeskripsikan, dan menginterpretasi bukti-bukti hasil pengukuran.

3)  Evaluasi,

adalah  proses mengambil keputusan berdasarkan hasil-hasil penilaian.

 

 

  1. Materi yang sulit dipahami

Uraikan materi yang menurut Anda sulit dipahami dalam bagian ini.

Materi yang sulit dipahami dalam bagian ini menurut saya adalah materi tentang    “Model – model pembelajaran”

Karena:

          Pada bagian materi tentang “Pengembangan pendidikan karakter dan potensi peserta didik” kita memahami bahwa setiap pembelajar (peserta didik) mempunyai karakter, gaya belajar(Learning Style), bakat , dan minat yang berbeda-beda. Perbedaan gaya belajar peserta didik inilah yang membuat saya masih kesulitan mendesain model pembelajaran yang cocok untuk semua peserta didik dalam waktu secara bersamaan.

          Menurut  James  dan  Gardner dalam bukunya “Gaya belajar’ halaman 42 “gaya belajar adalah cara  yang kompleks dimana para siswa menganggap dan  merasa  paling  efektif  dan  efisien  dalam  memproses,  menyimpan  dan memanggil kembali apa yang telah mereka pelajari”.

          Dunn dalam bukunya Psikologi  Pendidikan (Sugihartono: 2007:53) menjelaskan  bahwa : “gaya  belajar merupakan kumpulan  karakteristik  pribadi  yang  membuat  suatu  pembelajaran  efektif untuk  beberapa  orang  dan  tidak  efektif  untuk  orang  lain”.

 

          Berarti  gaya belajar berhubungan  dengan  cara  anak  belajar,  serta  cara  belajar  yang paling disukai. SebagaiContoh model pembelajara Penemuan   (Inquiry learning), untuk beberapa siswa yang mempunyai modalitas belajar memadai ini sangat menantang mereka, tetapi bagi siswa yang modalitas belajarnya kurang memadai akan mengalami kesulitan/hambatan dalam belajarnya. Itulah mengapa saya menganggap materi model-model pembelajaran masih dirasakan sulit pada tataran penerapannya (aplikasi) bukan sulit pada masalah teori/materinya.

 

  1. Materi esensial apa saja yang Anda anggap esensial tetapi tidak dijelaskan dalan bagian ini.

Menurut saya materi esensial yang tidak ada dalam sumber belajar pada bagian ini adalah materi tentang “Media Pembelajaran”.

Karena:

Seperti kita ketahui bahwa hingga sampai saat ini sebagian besar peserta didik kita masih menganggap Senibudaya itu pelajaran yang sangat sulit dipahami .Terlebih  pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), yang sebagian besar materinya menuntut anak berfikir abstrak. Hal itu selaras dengan pemikiran Jean Piaget seorang pakar biology dari Swiss (1897) yang memfokuskan kajiannya dalam aspek perkembangan kognitif dan mengelompokkannya dalam empat tahap, yaitu : (1) Tahap sensorimotorik (0-2 tahun), (2) Tahap pra opersional(2-4 tahun), (3) Tahap opersional konkrit (7-11 tahun)(4) Tahap opersional formal (11- dewasa)

Masih menurut J. Piaget pada tahap operasional formal (11 tahun – dewasa) anak sudah mampu berfikir abstrak dan dapat menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah. Namun pada kenyataan di lapangan anak didik kita( pada jenjang SMA) masih banyak yang kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan gurunya karena materinya menuntut berfikir tingkat tinggi/abstrak .

Pada saat inilah diperlukan kemampuan seorang guru untuk membuat berbagai macam “media pembelajaran” yang relevan, sesuai dengan karakteristik matapelajaran yang diampu, KD atau  materi pelajaran, karakteristik  dan modalitas belajar  siswa,  serta sarana pendukung belajar lainnya, sehingga bisa membantu pemahaman peserta didiknya. Karena dengan menggunakan media pembelajaran diharapakan mampu “menjembatani“ dari tahap berfikir konkrit – semi konkrit – abstrak. Oleh Karena itulah mengapa saya menganggap materi “media pembelajaran” itu penting terutama untuk mata pelajara matematika SMA yang menuntut peserta didiknya berfikir tingkat tinggi (Higher OrderThinking Skills).

 

  1. Materi apa saja yang tidak esensial namun ada dalam Sumber Belajar Uraikan materi yang menurut Anda tidak esensial tetapi dijelaskan dalam bagian ini.

Menurut saya materi yang tidak esensial namun ada dalam sumber belajar pada bagian ini adalah materi tentang “Teori Belajar”.

Karena:

Para ahli / psikologi dalam bidang pendidikan banyak mengemukakan pendapat atau teori belajar yang berbeda-beda. Dimana masing-masing teori mempunyai keunggulan dan kelemahan.

Ada empat aliran teori belajar

(1)   aliran behavioristik;

(2)  aliran kognitif-konstruktivisme;

(3)  aliran humanistik; dan

(4)  aliran sibernetik.

Contoh pada kasus Penerapan Teori Belajar Behaviorisme:

Budi merupakan seorang murid  yang tidak begitu berprestasi di bidang akademik sewaktu duduk di bangku SD. Setelah mengamati anak yang  tak becus dalam urusan sekolah, Ibu Budi menawarkan sebuah perjanjian yang rupanya dapat menumbuhkan motivasi belajarnya. Apabila Nanti Budi bisa memperoleh peringkat sepuluh besar, Budi akan terbebas dari segala urusan rumah tangga, seperti mencuci, membersihkan rumah, dan lain sebagainya.

Akibatnya, Budi pun giat belajar demi terbebas dari kewajiban membantu orangtua. Dan tanpa disangka, Budi berhasil memperoleh peringkat pertama. Senyuman penuh kebahagian, syukur, dan rasa bangga pun yang terukir di wajah orangtua setelah pulang mengambil rapor. Hal ini menyebabkan Budi menjadi kian kalut dalam usaha mempertahankan juara kelas dari tahun ke tahun. Dan banyak hal positif yang saya rasakan setelah itu, seperti lebih dihargai teman dan guru. Sayangnya, ketika Budi gagal menjaga konsistensi tersebut, maka Budi akan mendapatkan beberapa hal sebagai ganjaran, seperti berkurangnya waktu bermain dan sudah tentu harus tetap mengerjakan tugas bersih-bersih rumah.

Dari Contoh Kasus Teori Belajar Behaviorisme di atas, dapat dijabarkan beberapa hal sebagai berikut :

        • Penguatan (reinforcement) atau penghargaan (reward), yaitu suatu konsekuensi yang meningkatkan peluang terjadinya sebuah perilaku, seperti usaha belajar yang meningkat setelah diberi stimulus.
        • Penguatan negatif (Negative reinforcer) merupakan penguatan yang didasarkan pada prinsip bahwa frekuensi dari respons meningkat diikuti oleh stimulus yang tidak menyenangkan, misalnya usaha belajar meningkat dikarenakan untuk menghindari tugas-tugas rumah.
        • Hukuman (punishment) adalah suatu konsekuensi yang menurunkan peluang, contohnya tugas bersih-bersih dan kuantitas waktu bermain dikurangi.

Kelebihan teori belajar (behaviorisme) adalah sebagai berikut:

        • Sangat cocok diterapkan kepada siswa atau anak yang masih membutuhkan dominasi orang tua.
        • Pembelajaran dapat mudah diarahkan dan diganti dengan stimulus-stimulus yang diinginkan.
        • Pembelajaran mempunyai orientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.

Kekurangan teori belajar (behaviorisme) adalah sebagai berikut:

        • Menyebabkan proses pembelajaran yang tidak menyenangkan dan pendidik terkesan menjadi bersikap otoriter kepada siswa.
        • Pembelajaran hanya perpusat pada guru sehingga pemikiran siswa tidak bisa berkembang secara lebih kreatif.
        • Pemberian hukuman dianggap menjadi pilihan yang paling efektif untuk menertibkan siswa.

Dapat disimpulkan bahwasannya teori belajar behavioristik sudah tidak relevan lagi pada masa sekarang dan kemudian (seiring dengan perubahan jaman dan perkembangan peserta didik), karena berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati saja. Tapi anehnya masih banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selama ini. Pendekatan ini banyak dianut dalam praktik¬praktik pendidikan dan pembelajaran mulai dari pendidikan tingkat yang paling dini hingga pendidikan tinggi, namun ternyata tidak mampu menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global.

Itulah mengapa menurut saya materi yang tidak esensial namun ada dalam sumber belajar pada bagian ini adalah materi tentang “Teori Belajar”.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....


Online Support (Chat)

Masri


Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Tidak Ada Poling saat ini?
  Buat Poling
  Ok Deh

Komentar Terakhir

  • Lukmanul Hakim

    saya yakin PHP juga bisa bertahan sampai 2030 ...

    View Article
  • Eka Praja W

    makin parah aja nih ... mudah2n bisa berbenah negeri ku yg q banggakan ...

    View Article
  • Rizal Faizal

    asyik aja dehh... ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video