Islamic schools

By Masri 10 Nov 2018, 02:24:48 WIB

Meskipun tujuan utama pesantren adalah untuk menghasilkan Muslim yang baik, mereka tidak berbagi satu sikap terhadap Islam atau posisi pada sekularisme. Beberapa pesantren menekankan otonomi siswa modern untuk berpikir sendiri dan menafsirkan tulisan suci dan pengetahuan modern dengan cara yang konsisten dengan ajaran Islam. Yang lain lebih tradisional dan menekankan pentingnya mengikuti kebijaksanaan para penatua, termasuk ajaran mereka tentang sains, agama, dan kehidupan keluarga. Meskipun pengeboman teroris di Kuta, Bali, pada tahun 2002 menimbulkan kecurigaan tentang apakah pesantren mempromosikan pandangan ekstremis, mayoritas sekolah-sekolah di Indonesia secara teologis moderat, mencerminkan pandangan penduduk Indonesia secara keseluruhan. [12] Bagi mereka yang memilih pendidikan pesantren, sertifikat kesetaraan kelas enam tersedia setelah berhasil menyelesaikan tes negara. 

Bagi siswa untuk beradaptasi dengan kehidupan di negara-bangsa modern, pada tahun 1970-an Departemen Agama yang didominasi Muslim (sekarang Departemen Agama) menganjurkan penyebaran berbagai sekolah Muslim yang lebih baru: madrasah. Sekolah semacam ini mengintegrasikan mata pelajaran agama dari pesantren dengan mata pelajaran sekuler dari sistem pendidikan publik gaya Barat. Meskipun pada umumnya masyarakat percaya bahwa sekolah-sekolah Islam menawarkan pendidikan berkualitas rendah, di antara sekolah-sekolah Islam sebuah madrasah memiliki peringkat lebih rendah daripada pesantren.

Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah alternatif sekolah Islam untuk SD, mengikuti kurikulum dengan lebih fokus pada bahasa Arab dan Islam. Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah sekolah Islam setara SMP. Madrasah Aliyah (MA) adalah sekolah Islam yang setara dengan SMA sementara Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) setara dengan SMK